oleh

Dolar AS Lanjut Melemah Jelang Rilis Hasil Rapat Fed

Investing.com – Dolar AS lanjut melemah pada awal perdagangan Eropa Rabu (29/04) petang. Pelemahan dolar ini muncul lantaran trader lebih memilih masuk ke mata uang risiko menjelang pertemuan bank sentral utama. Kenaikan harga minyak hari ini dan banyak negara mulai akan membuka ekonominya kembali menambah nada positif mata uang berisiko.

Pada pukul 14.29 WIB, Indeks Dolar AS terus turun 0,26% ke 99,675. EUR/USD naik 0,43% ke 1,0865 dan GBP/USD naik 0,37% di 1,2467. USD/JPY turun 0,37% ke 106,47.

Di tanah air, rupiah menguat 0,05% ke 15.372,5 terhadap dolar AS.

Pasar bergerak hati-hati menjelang keputusan rapat kebijakan Federal Reserve AS dan ECB.

Bank sentral AS mungkin tidak menerbitkan kebijakan baru setelah hasil cukup baik pada pertemuan terakhir. Tetapi investor akan mencari petunjuk tentang jalur kebijakan Fed di masa depan.

“Trader mengharapkan penulisan ulang dari pernyataan kebijakan FOMC hari ini ketika Fed akan mengirim pesan yang jelas bahwa hasil kebijakan luar biasa akan tetap dipertahankan selama yang diperlukan,” Stephen Innes, kepala strategi pasar global di AxiCorp, menulis dalam catatan penelitian.

Tekanan juga meningkat pada Bank Sentral Eropa (ECB) yang akan melaksanakan rapat mengingat pemerintahan nasional di kawasan itu kesulitan menyepakati tindakan fiskal bersama menghadapi covid-19.

Ini mengikuti langkah mengejutkan Selasa malam oleh lembaga pemeringkat Fitch yang menurunkan peringkat investasi utang Italia menjadi BBB-, satu tingkat di atas peringkat sampah, mengutip naiknya tingkat utang negara.

Dolar AS telah mengalami pelemahan, analis Danske Bank mencatat, dalam catatan penelitian, “ini karena kinerja aset berisiko dan minyak beranjak naik; bahkan USD/JPY melemah tetapi EUR/USD gagal menembus 1,09.”

Sentimen positif Rabu yakni adanya kenaikan harga minyak. Gejolak pasar minyak baru-baru ini telah mendorong banyak orang untuk mengurangi aset risiko, dan setiap munculnya sinyal mendekati normal akan membantu mata uang berisiko.

Pada pukul 14.48 WIB, minyak mentah WTI melonjak 14,18% di $14,09 dan minyak mentah Brent menguat 2,86% di $23,39 per barel.

Salah satu mata uang sensitif risiko yang telah diminati karena kondisinya menjadi lebih menguntungkan yaitu dolar Australia, naik sekitar 6% selama sebulan terakhir dan 18% dari level terendah 17 tahun pada bulan Maret.

Australia melaporkan Rabu bahwa inflasi utama meningkat 2,2% dalam tiga bulan pertama tahun ini, laju tercepat sejak kuartal ketiga 2014. Angka ini kembali naik di kisaran target 2%-3% bank sentral.

AUD/USD menguat 0,71% ke 0,6536 pukul 14.52 WIB.

News Feed