oleh

Menilik Tren Rupiah dan Peranan SBN di Tengah Wabah Corona

Pada pekan ini, nilai tukar rupiah nampak menunjukkan keperkasaannya melawan dolar Amerikat Serikat (AS) di tengah gejolak pasar keuangan global dan juga dalam negeri akibat dampak pandemi COVID-19 atau virus corona.

Sebelumnya, kemarin (26/3/2020) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot ditutup menguat 195 poin atau 1,18 persen ke level Rp16.305 per dolar AS. Penguatan nilai tukar rupiah kemarin merupakan yang tertinggi di antara mata uang Asia lainnya di mana rupiah sempat berada di posisi Rp12.250 per dolar AS pada pukul 12.42 WIB.

Penguatan nilai tukar rupiah berlanjut pada hari ini, Jumat (27/3/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 135 poin atau 0,83 persen ke level Rp16.170 per dolar AS.

Perry Warijyo, Gubernur Bank Indonesia (BI), dalam briefing seputar perkembangan ekonomi terkini pada kemarin mengatakan sentimen positif di pasar keuangan global membantu penguatan di pasar keuangan domestik. Sentimen dimaksud khususnya datang dari AS di mana Senat mereka telah meloloskan proposal stimulus fiskal senilai US$2 triliun.

Stimulus fiskal tersebut, lanjut Perry, memperkuat pelonggaran moneter yang telah dilakukan bank sentral. Beberapa waktu lalu, bank sentral AS menurunkan suku bunga acuan sampai 100 basis poin menjadi 0-0,25 persen.

“Langkah-langkah tersebut mengurangi kepanikan yang terjadi pasar keuangan global. Paket kebijakan baik moneter maupun stimulus mengurangi kepanikan di pasar dan meredakan tekanan di global yang berimplikasi berlaku dengan membaiknya sentimen terhadap pasar keuangan Indonesia,” jelas Perry.


Sumber : BI

Chief Economist & Investment Strategy PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat dalam materi bertajuk Directors Briefing tertanggal 23 Maret 2020 menyampaikan posisi rupiah sendiri selama ini ditopang oleh aliran modal masuk baik berupa pembelian atas portfolio Surat Berharga Negara (SBN), saham hingga modal langsung (capital inflow).

Tren Rupiah

Ia menyampaikan pergerakan rupiah cenderung melemah sejalan dengan faktor fundamental defisit neraca perdagangan.”Ini (gambar di bawah) adalah statistik yang menunjukkan selisih antara ekspor barang dan jasa (yang menghasilkan valuta asing) dan impornya (yang membutuhkan valas). Dengan defisit itu berarti, permintaan valas lebih besar ketimbang pasokannya. Inilah faktor fundamental yang menyebabkan rupiah melemah,” kata Budi Hikmat.

Pada statistik di bawah ini, rupiah digambarkan pada garis berwarna merah dan defisit neraca berjalan berupa warna abu-abu grafik batang  :


Sumber : Bahana TCW

“Makrifat, pelemahan rupiah bukan kiamat malah harus dijadikan obat untuk selamat dari krisis selanjutnya,” kata Budi.

Bak mengingatkan, Budi menyampaikan selama neraca berjalan defisit, rupiah secara fundamental sulit berkelit untuk tidak melemah. “Sekarang kita diingatkan, ketika dana asing yang selama ini menopang rupiah minggat maka untuk selamat kita harus berani melakukan reformasi struktural,” tulisnya.

Jelas pertanyaan mengapa neraca berjalan bisa membaik menjadi surplus? Ia mengajak untuk mencermati bagian atas peraga di atas yang menunjukkan indeks harga komoditas Bloomberg BCOM (warna biru berbintik) yang bergerak bersesuaian dengan ‘tingkat kegemaran berutang’ negara maju (warna merah). Indikator terakhir ini diukur berdasarkan rasio utang terhadap pendapatan rumah tangga di Amerika Serikat.

Menurutnya ketika masyarakat di negara maju memompa ekonominya dengan berutang di mana mereka bisa mengkonsumsi barang dan jasa lebih banyak, Indonesia kecipratan rezeki. Sebab, kenaikan harga minyak misalnya, memacu harga batu-bara yang menjadi
andalan ekspor Indonesia. Lonjakan penjualan mobil meningkatkan permintaan terhadap ban yang selanjutnya memicu peningkatan karet.

Makanya, ketika pertumbuhan konsumsi di Amerika Serikat meningkat, kemakmuran China juga terangkat. Bahkan berkat globalisasi negeri itu mampu mengangkat 800 juta penduduknya dari jurang kemiskinan. Semakin makmur China semakin besar permintaan mereka untuk kebutuhan konsumsi termasuk ‘minyak sayur’ dan ini mengangkat harga CPO yang juga andalan ekspor Indonesia.

Lalu what when wrong?

Paling tidak ada dua faktor. Ia menyampaikan secara eksternal berutang itu jelas ada batasnya. Ketika rasio utang terhadap pendapat memuncak pada tahun 2008, terjadi krisis yang dikenal sebagai Krisis Keuangan Global 2008. Alasannya produk investasi bodong yang mengandalkan pembayaran utang dari kelompok terlemah (sub-prime) akhirnya rontok. Investornya merugi. Mereka butuh likuiditas sehingga harus menjual aset finansial termasuk yang diinvestasikan di pasar modal kita. “Itu sebabnya pasar modal kita terhempas,” imbuhnya.

Kala itu, Budi menjelaskan, The Fed akhirnya turut campur dengan membeli surat berharga bodong supaya dunia keuangan mendapatkan likuiditas. Sejak itu dunia memasuki era de-leveraging yang terlihat diikuti oleh penurunan indeks harga komoditas. Bahkan, lebih rendah ketimbang sebelum krisis 1998.

Secara internal, ini yang paling penting, ketika kita makmur dengan lonjakan harga komoditas kita tidak hanya lupa menyisihkan cadangan. Tetapi belanja kita boros, seperti pada kendaraan yang menyebabkan kita keluar sebagai negara OPEC sejak tahun 2004.

Menurutnya, literatur ilmu ekonomi menilai kita terkena tulah Penyakit Belanda (Dutch’s disease) di mana peningkatan harga ekspor komoditas primer melemahkan industri manufaktur yang sejatinya memberi kesempatan kerja lebih banyak. Mudah dipahami, sebab ketika booming itu berbagai sumber daya keuangan dan manusia serta kebijakan pemerintah lebih mendukung industri yang booming. Apalagi, struktur politik kita setelah Era Reformasi 1998 ditandai oleh desentralisasi yang berisiko menurunkan kapasitas pemimpin tertinggi dan birokrasi mencapai visi.

Setelah era reformasi, kita tidak hanya mengalami de-industrialisasi tetapi juga melebarnya ketimbangan kemakmuran. Kini terlihat, keterbasan kita adalah tidak mampu memanfaatkan pelemahan rupiah untuk memacu ekspor.

“Semoga penuturan ini memberikan pencerahan agar tidak mencela pemerintah tidak sanggup memperkuat rupiah hingga paras 10.000 misalnya. Ingat, kita mengalami defisit neraca berjalan dan menghadapi tantangan penguatan dolar. Kita harus ‘taubatan nashuha’ mendorong ekspor produk manufaktur dan jasa kreatif. Insya Allah kita bisa, bila mau berusaha keras,” ucap Budi.

SBN

Budi kemudian mengajak kita mencermati tabel di bawah ini yang menunjukkan perkembangan capital flow baik dalam aset obligasi dan saham yang menekan posisi nilai tukar untuk sejumlah negara. Terlihat, sepanjang tahun berjalan investor asing telah melepas SBN senilai US$6 miliar dan saham US$700 juta. Outlow ini yang melandasi kejatuhan harga saham 33,4 persen dan yield SBN bertenor 10 tahun naik menjadi 8 persen per 21 Maret 2020.


Sumber : Bahana TCW

Outlow ini yang melandasi kejatuhan harga saham 33,4 persen dan yield SBN bertenor 10 tahun naik menjadi 8 persen per 21 Maret 2020. Sementara itu Bareksa mengutip info terbaru dari laman resmi BI pada hari ini (27/3/2020), disebutkan pada 26 Maret 2020, yield SBN 10 tahun turun ke 7,99 persen.

Sumber : Bahana TCW

Terlihat outflow juga terjadi hampir di negara lain, yang tentunya menarik adalah China hijau tetap inflows. “Cermati peraga tambahan di bawah ini bahwa outflow SBN dalam skala besar baru terjadi setelah 10 tahun kita mengalami inflows,” kata Budi.


Sumber : Bahana TCW

Budi mengatakan di tengah keterbatasan likuiditas domestik,  memang hanya Bank Indonesia (BI) yang dapat mengimbangi tekanan jual investor asing yang sangat masif. BI dilansir telah membeli senilai Rp192 trilun SBN yang dilego asing. Strategi BI itu bersesuaian dengan rencana menggantikan SBI dengan SBN sebagai piranti kebijakan moneter.

“Semoga sekarang sudah sadar bahwa pelemahan rupiah adalah masalah global akibat tingginya kebutuhan likuiditas investor asing. Jadi sangat tepat bagi BI bersama Kementerian Keuangan fokus memperkuat perekonomian domestik dengan menggelar berbagai stimulus guna menghadapi risiko resesi global akibat berbagai faktor,” kata Budi.


Sumber : Bahana TCW

Sementara itu Budi mengatakan too much liquidity, too little credit too little earning. Aksi bank sentral memasok likuiditas secara kuantiatif jelas terlihat pada peningkatan total asset bank sentral. Lebih lanjut dia menyampaikan pandangan jangka panjangnya yakni in the world of massive excess liquidityaging population and de-leveraging, bond is the new equity.

“Kelebihan likuiditas itu akan menjaga suku bunga dan yield SBN berbagai negara terjaga rendah. Dengan disiplin fiskal kita dan kondisi perbankan kita yang relatif lebih baik dibanding krisis moneter 1998, maka terbuka peluang untuk kembali dilirik oleh investor asing,” katanya. Kemudian ia mengatakan peluang kenaikan harga SBN inilah yang memungkinkan suatu saat BI menjadi ‘tajir’.

(AM)

Sumber : www.bareksa.com

News Feed