oleh

Rupiah Menguat Rabu Petang, Didorong Pelemahan Dolar AS akibat Stimulus Fed

Investing.com – Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu (29/04) petang. Penguatan rupiah masih karena faktor eksternal pelemahan dolar AS didorong oleh sentimen stimulus Fed, jumlah kasus covid-19, data ekonomi lemah dan dari dalam negeri terkait dampak ekonomi penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna membatasi covid-19

Hingga pukul 14.50 WIB menurut data Investing.com, rupiah USD/IDR berakhir naik 0,83% di 15.295,0. Pergerakan rupiah hari ini berkisar di 15.295,0 – 15.422,5.

Begitu perdagangan hari ini dibuka lapor CNBC Indonesia Rabu (29/04), rupiah langsung menguat 0,2% di Rp 15.350/US$ penguatan bertambah menjadi 0,33% di Rp 14.330/US$. Saat itu, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terbaik kedua di Asia.

Tetapi sayangnya penguatan rupiah terpangkas bahkan sempat melemah 0,1% di Rp 15.395/US$ pada tengah hari, meski tidak lama dan kembali ke zona hijau.

Rupiah kembali menunjukkan gaya khasnya, melesat di menit-menit akhir hingga mengakhiri perdagangan di level Rp 15.260/US$, menguat 0,78% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Level tersebut merupakan yang terkuat sejak 18 Maret lalu.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp15.415 per dolar AS atau menguat dari Rp15.488 per dolar AS pada Selasa (28/4) CNN Indonesia menyatakan.

Perry kembali menebar optimisme di pasar keuangan hari ini tambah laporan. Pelemahan rupiah Selasa kemarin dikatakan sebagai akibat permintaan valas yang tinggi di akhir bulan, serta faktor teknikal.

Meski demikian BI masih pede rupiah akan ke Rp 15.000/US$ di akhir tahun nanti. Lebih jauh Perry mengatakan, ke depan arus aliran modal asing juga masih akan terus masuk pasar uang. Apalagi jika nanti pandemi Covid-19 telah mereda, sehingga masih akan terus menguat, kata Perry, ke arah Rp 15.000/US$.

Analis juga menjelaskan soal tren penurunan dolar AS hari ini. Ini terjadi karena besarnya sentimen negatif yang mewarnai pasar keuangan negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu.

Pertama, The Federal Reserve tidak akan memberikan stimulus baru dalam waktu dekat untuk merespons dampak dari tekanan ekonomi akibat pandemi virus corona atau Covid-19. Kedua, jumlah kasus virus corona di AS yang mencapai 1.012.583 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 115.936 orang sembuh dan 58.335 orang meninggal dunia.

Ketiga, data ekonomi AS belum juga memunculkan tanda-tanda perbaikan. Dan keempat, harga minyak mentah WTI masih cukup rendah di kisaran US$14,25 per barel, meski sudah membaik dari kontraksi terdalam pada pekan lalu. Sementara dari dalam negeri, Ibrahim melihat rupiah mendapat sokongan dari penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam rangka penekanan pandemi corona.

Rupiah memimpin penguatan mayoritas mata uang Asia dari dolar AS. Penguatan juga dirasakan oleh rupee India 0,68 persen, won Korea Selatan 0,52 persen, dan ringgit Malaysia 0,47 persen.

Kemudian, peso Filipina 0,33 persen, yen Jepang 0,33 persen, dolar Singapura 0,23 persen, baht Thailand 0,18 persen, dan yuan Tiongkok 0,09 persen. Hanya dolar Hong Kong yang stagnan dari mata uang Negeri Paman Sam.

Mata uang utama negara maju juga kompak berlabuh ke zona hijau. Rubel Rusia menguat 0,64 persen, dolar Australia 0,58 persen, euro Eropa EUR/USD 0,44 persen, dolar Kanada 0,42 persen, franc Swiss 0,33 persen, dan poundsterling Inggris GBP/USD 0,12 persen.

News Feed